cegah bullying sejak dini, mahasiswa kkn uin ws gelar edukasi anti-bullying

Demak, 06 Agustus 2026 -- Maraknya kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah mendorong Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 90 UIN Walisongo Semarang menggelar kegiatan edukasi anti-bullying bagi siswa-siswi SDN Sarirejo 02, Desa Sarirejo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 06 Agustus 2026 tersebut merupakan salah satu program kerja divisi Pendidikan dan Keagamaan dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap bahaya perundungan. Program ini dirancang sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap persoalan sosial yang kerap luput dari perhatian, namun berdampak besar terhadap tumbuh kembang psikologis anak.
Kegiatan ini diikuti oleh 57 siswa-siswi dari kelas 4, 5, dan 6 dengan mengusung tema "Stop Bullying, Tumbuhkan Empati", para mahasiswa mengemas edukasi dengan metode interaktif agar mudah dipahami oleh anak-anak, mulai dari pemaparan materi, sesi tanya jawab, bernyanyi bersama, menonton film kisah inspiratif hingga permainan edukatif (ice breaking) yang menyisipkan pesan moral tentang pentingnya saling menghargai antarteman. Suasana kelas terlihat hidup sepanjang kegiatan berlangsung, ditandai dengan antusiasme siswa yang aktif mengangkat tangan untuk bertanya maupun menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh mahasiswa KKN. Metode pembelajaran yang menyenangkan ini sengaja dipilih agar pesan-pesan mengenai empati dan sikap saling menghormati dapat lebih mudah diserap dan diingat oleh anak-anak usia sekolah dasar.
Kegiatan ini dipandu oleh dua Mahasiswa KKN Posko 90, Nabila dan Erieka. Nabila menjelaskan bahwa program ini lahir dari keprihatinan terhadap tingginya kasus perundungan di lingkungan sekolah, baik secara fisik, verbal, maupun melalui media sosial (cyberbullying). "Kami melihat bahwa banyak anak-anak yang belum memahami bahwa tindakan seperti mengejek, mengucilkan, atau menyebarkan gosip itu termasuk bentuk bullying. Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan pemahaman sejak dini agar mereka berani bersuara dan saling melindungi satu sama lain," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pencegahan bullying tidak cukup hanya dilakukan melalui teguran atau larangan, tetapi juga memerlukan pendekatan edukatif yang membangun kesadaran dari dalam diri anak itu sendiri, sehingga perubahan sikap yang terjadi bersifat jangka panjang dan bukan sekedar kepatuhan sesaat.
Erieka juga turut menegaskan pentingnya peran lingkungan sekitar, termasuk sekolah dan keluarga, dalam membentuk karakter anak yang berempati. Menurutnya, anak-anak perlu dibekali kemampuan mengenali situasi bullying sejak dini, baik sebagai korban, pelaku, maupun saksi, agar mereka dapat mengambil sikap yang tepat. "Anak-anak juga perlu tahu bahwa mereka tidak sendirian, dan selalu ada guru atau orang dewasa yang bisa dimintai bantuan ketika mengalami atau melihat tindakan bullying," tambahnya.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN memaparkan materi mengenai definisi bullying, jenis-jenis bullying, dampak bullying hingga langkah-langkah pencegahannya. Materi disampaikan secara bertahap dengan bahasa yang sederhana dan contoh-contoh kasus yang dekat dengan keseharian anak-anak, sehingga mudah dipahami. Selain pemaparan materi, para siswa juga diajak membuat simbol cap telapak tangan sebagai bentuk kampanye kreatif yang bermakna "Stop Bullying". Setiap siswa membubuhkan cap tangan mereka pada media kain putih yang telah disiapkan, sebagai simbol komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan. Kegiatan ini disambut antusias oleh para siswa, yang tampak bersemangat menunjukkan hasil karya mereka kepada teman-teman sekelas.
Salah satu siswa peserta kegiatan dari kelas 6 mengaku senang dan mendapat banyak pelajaran baru. "Aku jadi tahu kalau ngejek teman itu juga termasuk bullying. Sekarang aku nggak mau ikut-ikutan ngejek, dan kalau lihat teman dibully, aku akan berani lapor ke guru," tuturnya. Pengakuan serupa juga disampaikan oleh beberapa siswa lain yang mengaku baru menyadari bahwa tindakan-tindakan kecil yang selama ini dianggap wajar, seperti memberikan julukan yang tidak disukai atau mengucilkan teman dari sekelompok bermain, ternyata termasuk kategori bullying yang perlu dihindari.
Kegiatan ini turut didampingi oleh tiga guru wali kelas. Kepala Sekolah SDN Sarirejo 02, Sri Rahayu, S.Pd., mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan oleh mahasiswa KKN Posko 90 UIN Walisongo tersebut. Menurutnya, edukasi semacam ini penting dilakukan secara berkelanjutan mengingat pergaulan anak-anak yang semakin kompleks, "Kami berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa KKN yang sudah membantu memberikan edukasi ini. Semoga materi yang disampaikan bisa terus diingat dan diterapkan oleh anak-anak kami di sekolah maupun di rumah," katanya. Sri Rahayu juga berharap kolaborasi antara pihak sekolah dan mahasiswa dapat terus berlanjut melalui program-program edukatif lain yang bermanfaat bagi perkembangan karakter siswa.
Kegiatan edukasi anti-bullying ini menjadi salah satu wujud nyata kontribusi mahasiswa KKN dalam bidang pendidikan di tengah masyarakat. Selain memberikan manfaat langsung bagi siswa, program ini diharapkan dapat menumbuhkan lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, dan bebas dari tindakan perundungan, sekaligus menjadi bekal karakter positif yang akan terus dibawa oleh para siswa hingga jenjang pendidikan berikutnya. Program semacam ini juga sejalan dengan upaya nasional dalam menekan angka kasus perundungan di lingkungan pendidikan, yang hingga kini masih menjadi perhatian serius berbagai pihak.
Melalui program ini, mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang berharap dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat Desa Sarirejo, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, sekaligus menjadi bentuk pengabdian nyata kepada masyarakat. Ke depan, mahasiswa Posko 90 berencana terus mengawal isu pendidikan karakter ini melalui program-program lanjutan, seperti pendampingan belajar dan penguatan nilai-nilai toleransi antarsiswa, sebagai bagian dari komitmen jangka panjang KKN dalam membangun masyarakat yang lebih baik.
Penulis: Tim KKN MIT Ke-22 Posko 90 UIN Walisongo Semarang
Berita Terkait
PendidikanKKN Posko 90 UIN Ws Bangun Kebiasaan Peduli Lingkungan di sd sarirejo 02
Mahasiswa KKN dan siswa mengumpulkan sampah organik dan anorganik
PendidikanSemarakkan Pagi dengan Kreativitas dan Keceriaan KKN MIT Posko 90 UIN ws
kegiatan sepeda hias bersama sd sarirejo 02 dan kkn mit ke-22 posko 90 uin walisongo semarang berlangsung meriah dalam menyambut hut ke-81 kemerdekaan

